Selasa, 08 November 2011
Separuh Jiwa Bintang #1
Di halaman rumah ku, aku dan Risky berbaring, memandang ribuan bintang yang seakan berlomba memamerkan sinarnya masing-masing. Risky adalah sahabat terbaikku. Rumah kita berdekatan dan keluarga kami pun juga sudah akrab sekali. Malam ini begitu indah, begitu menakjubkan.
“ Ky, tumben kamu main ke rumah aku malam-malam? Ada yang penting ya?” tanyaku pada Risky.
Namun Risky hanya memandangku dan tak lama kemudian ia menunduk. Aku bingung dengan sikapnya. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Perlahan ku pegang tangannya, lama. Tapi ia tetap saja diam. Tiba-tiba air matanya mengalir membasahi pipinya. Kupererat genggamanku. Kemudian ia tatap dalam-dalam kedua mataku. Aku semakin bingung dengan sikapnya. Perlahan ia bicara.
“ Bint, ky minta maaf, ky gag bisa penuhi janji Ky ke Bintang. Ky gag bisa jagain Bintang lagi.” paparnya seraya meneteskan butir-butir air mata.
“ Maksut Ky apa?” tanyaku pada Risky
“ Ky harus pergi . Papa ditugasin kerja di Australia dan mama juga harus mendampinginya.” lanjutnya.
“Kamu pasti bohong kan Ky? Kamu gag mungkin ninggalin Bint sendiri?” tanyaku pada Risky
“ Maafin Ky, Ky benar-benar harus pergi.”
“Tapi kan Ky bisa tinggal di rumah Bintang. Mama sama Papa pasti gak keberatan kok.”
“ Itu gak mungkin bint. Aku gak bisa tinggal di rumah kamu.”
Aku bingung. Aku terdiam, dan tak terasa titik demi titik air mataku jatuh. Hatiku sakit, seakan ingin memberontak. Aku masih tidak percaya ia akan meninggalkanku. Risky membelai rambutku dengan lembut. Lalu ia menghapus air mataku dengan tangannya.
“ Ky akan kembali lagi kok bint. Tunggu 6 tahun lagi, saat umur Bintang 15 tahun. Bintang bisa nunggu kan? tanyanya
“Tapi itu kan lama sekali. Aku gak bisa jauh dari kamu.”
“Kalau Bintang mau bersabar dan sayang sama Ky pasti Bintang bisa kok dan pasti terasa cepat.
Aku hanya bisa mengangguk lemas walaupun sebenarnya ini sangat terasa sulit.
Risky lalu mengambil sesuatu dari kantongnya.
“Ini buat bintang, jangan pernah lupain Ky ya?” kata Risky sambil memakaikan sebuah kalung yang berliontikan bentuk setengah hati di leherku.
Aku masih terdiam.
“ Aku juga memakai kalung yang sama kok. Suatu saat kedua potongan hati ini akan menjadi satu.” kata Risky sambil memperlihatkan kalungnya padaku. Lalu ia menggenggam tanganku erat.
“ Apa kamu benar-benar akan kembali?” tanyaku.
“ Pasti Bint. Asal Bintang mau nungguin Ky.” jawabnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar