Selasa, 08 November 2011

Separuh Jiwa Bintang #3

Pelajaran Matematika telah usai. Aku dan Rinda pergi ke kantin bersama. Saat aku melewati jalan di dekat lapangan basket, tiba-tiba ada sesuatu yang menimpa kepalaku. Dan aku tak sadarkan diri.
Saat aku terbangun, di sampingku sudah ada Rinda dengan wajah cemasnya.
“ Akhirnya kamu sadar juga Ren.” kata Rinda sambil mengusap dadanya. Aku hanya tersenyum kepadanya.
“Kamu gag pa-pa kan? Maafin aku, aku gag tau kalau kamu lagi jalan di situ.” tiba-tiba ada suara seorang cowok. Ternyata itu adalah cowok yang bertabrakan denganku di koridor.
“ Iya kak, gag pa-pa kok. Aku yang tadi gag berhati-hati.” jawabku.
“ Aku udah dua kali bikin kamu sakit.” ucapnya dengan wajah bersalah.
“ Gag pa-pa kok kak.”
“ Oh ya, aku Risky.” ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.
“ Aku udah tau kok kak.. hehehe.“
                “ Lho?” jawab Risky sambil mengangkat kedua alisnya. Aku hanya tersenyum padanya
                “ Hmm.. Nama kamu siapa?”
                “ Aku……. Aku Renia.” jawabku seraya menjabat tangannya.
“ Senang berkenalan denganmu Renia.” ucap Risky sambil tersenyum  padaku.
                                                                       ***********
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Ku buka tirai kamar. Di luar sedang hujan deras. Udara sejuk dan bau tanah yang khas membuat aku senang dengan hujan. Da aku pun teringat kejadian di sekolah tadi.
“ Apakah dia Risky yang selama ini aku tunggu? Tapi kalo’ emang dia Risky yang aku tunggu, kenapa dia gag pernah nemuin aku?  Kenapa namanya harus Risky sih? Tanyaku dalam hati sambil memegang erat kalung pemberiannya dulu.
Titik demi titik air mataku mengalir. Aku gag bisa membohongi diriku sendiri. Aku gag bisa menahan rasa rindu ini.
 “ Aku kangen banget sama kamu Ky. Aku gag bisa ngelupain kamu. Aku selalu nungguin kamu di sini.  Kenapa kamu mengingkari janjimu? Apakah kamu udah lupain aku dan kamu akan pergi selama-lamanya ?”
Tok..tok..tok.. Suara ketukan pintu dari luar membangunkanku dari lamunan. Aku segera mengusap ar mataku dan membuka pintu.
“  Ada apa bi?” ternyata bi Inem yang mengetuk pintuku.
“ Ditunggu bapak sama Ibu di meja makan non.”
“ Iya bi, bentar lagi aku turun.” Aku pun segera menuju meja makan.
************
Sesudah makan aku kembali ke kamar. Ku ambil Pinky, sebutan untuk buku diary ku, dan sebuah pulpen. Ku mulai mencurahkan isi hatiku.
DEAR DIARY…
DIARY, aku kangen banget sama Risky. Aku udah nungguin dia, lama, tapi kenapa dia gag balik-balik juga? Kenapa dia gag nepatin janjinya padaku? Apa dia udah ngelupain aku? Hati aku sakit banget. Air mata ini serasa sudah kering. Tadi aku bertabrakan dengan seorang cowok, namanya Risky. Aku bingung. Apakah dia Risky yang selama ini ku tunggu? Tapi jika dia itu Risky kenapa dia gag pernah nemuin aku? Kenapa dia gag pernah kasih kabar ke aku? Aku kangen kamu Risky. Aku sayang benget sama kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar