Pelajaran Matematika telah usai. Aku dan Rinda pergi ke kantin
bersama. Saat aku melewati jalan di dekat lapangan basket, tiba-tiba ada
sesuatu yang menimpa kepalaku. Dan aku tak sadarkan diri.
Saat aku terbangun, di sampingku sudah ada Rinda dengan wajah cemasnya.
“ Akhirnya kamu sadar juga Ren.” kata Rinda sambil mengusap dadanya. Aku hanya tersenyum kepadanya.
“Kamu
gag pa-pa kan? Maafin aku, aku gag tau kalau kamu lagi jalan di situ.”
tiba-tiba ada suara seorang cowok. Ternyata itu adalah cowok yang
bertabrakan denganku di koridor.
“ Iya kak, gag pa-pa kok. Aku yang tadi gag berhati-hati.” jawabku.
“ Aku udah dua kali bikin kamu sakit.” ucapnya dengan wajah bersalah.
“ Gag pa-pa kok kak.”
“ Oh ya, aku Risky.” ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku.
“ Aku udah tau kok kak.. hehehe.“
“ Lho?” jawab Risky sambil mengangkat kedua alisnya. Aku hanya tersenyum padanya
“ Hmm.. Nama kamu siapa?”
“ Aku……. Aku Renia.” jawabku seraya menjabat tangannya.
“ Senang berkenalan denganmu Renia.” ucap Risky sambil tersenyum padaku.
***********
Sesampainya
di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Ku buka tirai kamar. Di luar
sedang hujan deras. Udara sejuk dan bau tanah yang khas membuat aku
senang dengan hujan. Da aku pun teringat kejadian di sekolah tadi.
“
Apakah dia Risky yang selama ini aku tunggu? Tapi kalo’ emang dia Risky
yang aku tunggu, kenapa dia gag pernah nemuin aku? Kenapa namanya
harus Risky sih? Tanyaku dalam hati sambil memegang erat kalung
pemberiannya dulu.
Titik demi titik air mataku mengalir. Aku gag bisa membohongi diriku sendiri. Aku gag bisa menahan rasa rindu ini.
“
Aku kangen banget sama kamu Ky. Aku gag bisa ngelupain kamu. Aku selalu
nungguin kamu di sini. Kenapa kamu mengingkari janjimu? Apakah kamu
udah lupain aku dan kamu akan pergi selama-lamanya ?”
Tok..tok..tok.. Suara ketukan pintu dari luar membangunkanku dari lamunan. Aku segera mengusap ar mataku dan membuka pintu.
“ Ada apa bi?” ternyata bi Inem yang mengetuk pintuku.
“ Ditunggu bapak sama Ibu di meja makan non.”
“ Iya bi, bentar lagi aku turun.” Aku pun segera menuju meja makan.
************
Sesudah
makan aku kembali ke kamar. Ku ambil Pinky, sebutan untuk buku diary
ku, dan sebuah pulpen. Ku mulai mencurahkan isi hatiku.
DEAR DIARY…
DIARY,
aku kangen banget sama Risky. Aku udah nungguin dia, lama, tapi kenapa
dia gag balik-balik juga? Kenapa dia gag nepatin janjinya padaku? Apa
dia udah ngelupain aku? Hati aku sakit banget. Air mata ini serasa sudah
kering. Tadi aku bertabrakan dengan seorang cowok, namanya Risky. Aku
bingung. Apakah dia Risky yang selama ini ku tunggu? Tapi jika dia itu
Risky kenapa dia gag pernah nemuin aku? Kenapa dia gag pernah kasih
kabar ke aku? Aku kangen kamu Risky. Aku sayang benget sama kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar