Keesokan harinya, saat di sekolah, aku bertemu lagi dengan Kak Risky.
Entah kenapa setiap aku bertemu dengannya hatiku berdetak cepat. “ Apa
aku suka sama dia? Tapi aku kan baru mengenalnya dan aku gag mungkin
sayang sama cowok lain. Hati aku hanya untuk Risky .” kata ku dalam
hati.
“ Hai Ren.” sapa Kak Risky sambil melambaikan tangannya padaku
“ Hai juga kak.” Hatiku semakin berdetak cepat.
“ Baru datang ya?”
“Iya kak.”jawabku.
Sejak
saat itu, kami menjadi akrab. Kami sering jalan-jalan bersama. Tapi aku
belum pernah ke rumahnya dan begitu juga sebaliknya, dia belum pernah
ke rumahku. Dan pada saat kita dinner bareng, dia menyatakan
perasaannya padaku.
“ Ren, sebenarnya aku sayang sama kamu. Aku
cinta sama kamu. Kamu mau gag jadi pacarku? tanya Kak Risky sambil
memegang kedua tanganku.
Aku bingung mau menjawab apa. Aku ingin
sekali menjadi pacarnya, tapi aku juga gag bisa membohongi diri aku
sendiri kalau aku masih sayang sama Risky, orang yang sampai detik ini
aku tunggu.
“ Aku…… aku belum bisa kasih jawabanya sekarang kak. Aku butuh waktu.” jawabku seraya menunduk.
“ Ok. Aku bakalan nungguin kamu terus, sampai kamu bisa membalas cintaku ini.”
Aku hanya bisa tersenyum padanya. Tak lama kemudian, kamipun segera pulang.
“ Aku anterin kamu ya. Gag baik cewek malem-malem naik taxi sendirian. ” pinta Kak Risky
“ Tapi…..”
“ Please, jangan nolak permintaan aku ini.” pinta Kak Risky lagi.
“ Ya udah deh kak.” jawabku. Kamipun segera menaikki sedan BMW merah milik Kak Risky.
Sesampainya di depan rumahku…
“ Ini rumah kamu Ren?” tanya Kak Risky sedikit heran.
“ Iya kak, emang kenapa?” jawabku penasaran
“ Apa kamu baru menempati rumah ini?” tanyanya lagi
“ Enggak kok kak. Sejak kecil rumah aku sudah di sini.”
“ Apa kamu kenal dengan kalung ini?” tanya Kak Risky sambil menunjukkan
sebuah kalung berliontinkan setengah hati.
“ Kakak…. Kakak dapat kalung itu dari mana?” aku pun segera memperlihatkan kalung yang sama kepadanya.
“ Kamu Bintang? Bintang sahabat kecilku dulu?”
“ Kamu…… Risky yang dulu sering bermain denganku?”tanyaku tak percaya.
“ Iya Bintang. Aku Risky, Risky sahabat kecilmu dulu.’’ jawabnya dengan
mata berkaca-kaca dan segera memelukku. Aku hanya bisa terdiam dalam
pelukannya. Tapi, aku segera melepaskan pelukannya.
“ Kamu ke mana aja? Kenapa kamu gag segera nemuin aku? Aku udah
nungguin kamu. Aku kangen banget sama kamu Ky.” Air mataku tak bisa
terbelenggu lagi.
“ Maafin aku Bintang. Aku gag tau kalau kamu Bintang aku. Selama ini aku mengenalmu sebagai Renia.”
“ Nama aku Renia Putriana Bintang. Sejak malam itu, aku sengaja gag
pakek nama Bintang karena aku hanya ingin dipanggil Bintang sama kamu.”
“ Maafin aku Bintang.”
“ Kamu jahat Ky. Kamu ninggalin aku. Kenapa selama ini kamu gag nyariin aku?”
“ Aku………”
“ Udah aku gag mau denger apa-apa dari mulut kamu. Aku kecewa sama
kamu. Aku benci kamu.” Aku pun segera keluar dari mobil.
“ Bintang tunggu aku. Bintang…………….”
************
Sejak
kejadian malam itu, aku dan Kak Risky tak seakrab dulu. Aku selalu
menghindar dari dia. Aku masih tak percaya dengan semua ini. Kak Risky
ternyata adalah orang yang selama ini aku tunggu. Aku bingung. Apakah
aku harus senang karena aku bisa bertemu lagi dengan Risky? Ataukah aku
harus sedih karena ternyata dia gag pernah nyariin aku?
“ Bintang…” sapa Risky
Aku segera pergi dari hadapan dia. Aku belum bisa menerima semua ini.
“ Bintang tunggu aku. Aku bisa jelasin semua ini. Bintang …….. “ Risky berusaha untuk berbicara denganku.
“ Udah gag ada yang perlu dijelasin. Aku aja yang terlalu bodoh
nungguin orang yang jelas-jelas gag peduli sama aku.”
“ Bintang, aku sayang banget sama kamu. Aku gag bisa jauh dari kamu.” Air mata Risky menetes membasahi pipinya.
“ Kamu bohong. Kamu gag sayang sama aku. Kamu gag pernah nyariin aku.
Kamu jahat, Aku benci sama Kamu.” Aku segera berlari. Hatiku sakit.
Hatiku hancur.
**************
Setiap kali
Risky telepon, aku selalu me-reject nya. Setiap kali ia sms, aku juga
gag pernah membalasnya. Dan pada suatu hari, aku mendengar bahwa ia
kritis di rumah sakit. Aku bingung. Apakah aku harus menjenguk dia? Aku
masih marah padanya. Tapi aku juga gag bisa melihat dia sakit. Aku
hanya ingin melihat dia tersenyum. Cintaku terlalu besar untukknya.
Akhirnya cinta aku mampu menghapus rasa benciku padanya, dan aku
memutuskan untuk menjenguknya besok.
Saat aku tiba di Rumah Sakit, aku melihat Om Rendy dan Tante Siska menangis.
“ Tante, om, gimana keadaan Risky?” tanyaku
“ Risky……… “ tante Siska menangis lebih kencang
“ Ada apa tante, Risky kenapa? Risky gag pa-pa kan tante?” aku semakin bingung dengan sikap tante Siska.
“ Risky udah gag ada Bint.” Jawab Om Rendy sambil memeluk tante Siska yang sedari tadi menangis.
“ Enggak,,, gag mungkin. Om pasti bohong. Risky pasti baik-baik aja.
Risky gag mungkin ninggalin aku sendiri lagi. Dia berjanji gag akan
pernah ninggalin aku.” kataku tak percaya. Aku segera masuk ke ruangan
Risky. Air mataku tak bisa tertahankan, ketika melihat tubuh Risky yang
terbujur kaku.
“ Risky… Kamu pasti lagi ngerjain
aku kan? Kamu baik-baik aja kan? Kamu gag mungkin ninggalin aku? Kata
kamu, kamu akan selalu jagain aku? Tapi kenapa kamu malah ninggalin aku
Ky? Aku sayang sama kamu. Maafin aku Ky, aku terlalu egois sama kamu.
Aku gag bisa jauh dari kamu Ky.” air mataku semakin deras. Kupeluk
erat-erat tubuhnya.
“ Riskyy………………” teriakku tak tertahankan lagi.
***************
Keesokan
harinya, di pemakaman Risky, aku hanya bisa menyesali keegoisan ku. Aku
sama sekali gag bisa percaya kalo’ Risky benar-benar sudah ninggalin
aku tuk selamanya. Tetes demi tetes air mataku jatuh di pusaran makam
Risky.
“ Bintang..” ucap tante Siska sambil memegang pundaku.
“ Iya tante.”
“ Sebelum Risky pergi, Risky menitipkan ini ke tante. Dia berpesan
untuk memberikannya padamu.” kata tante Siska sambil mengulurkan sebuah
kotak hitam padaku. Aku menerima kotak itu.
“
Tante pergi dulu ya Bintang.” tante Siska pun pergi. Sekarang hanya ada
aku di pemakaman Risky. Ku buka perlahan kotak itu. Di dalam kotak itu
terdapat secarik surat dan kalung berliontinkan setengah hati yang sama
persis dengan punyaku. Ku buka surat itu dan ku baca perlahan.
Dear Bintang…
Bintang,
maafin aku. Aku udah bikin kamu menangis. Aku udah bikin kamu nungguin
aku terus. Sebenarnya, aku ke Australia bukan semata-mata karena papa
ditugasin di sana, tapi di sana aku juga berobat. Aku sakit tumor otak
Bint. Maafin aku, aku gak jujur sama kamu, aku bohongin kamu, aku cuma
gak mau bikin kamu sedih. Dan untuk pertanyaan kamu, kenapa aku gak
nyariin kamu, bukan karena aku udah ngelupain kamu, bukan karena aku gak
sayang sama kamu, tapi karena aku gak mau kamu tau kalau aku terserang
penyakit ini. Aku gak mau semakin nyakitin kamu. Aku sayang banget sama
kamu Bintang. Walau ragaku udah gag ada di sampingmu, tapi cintaku
selalu ada di hati kamu. Aku harap kamu bisa maafin aku. Aku harap kamu
gak akan pernah ngelupain aku. Janganlah menangisi kepergianku ini Bint,
aku gak mau melihat kamu menangis, aku hanya ingin melihatmu tersenyum.
Makasih buat kasih sayang kamu yang begitu besar buat aku selama ini.
Makasih buat waktu kamu yang terbuang percuma tuk nungguin aku. Kalung
ini, aku serahkan ke kamu. Sekarang kalung ini sudah bisa bersatu, walau
aku gag ada lagi. Simpan baik-baik kalung itu ya Bintang. AKU SAYANG
KAMU BINTANG KU…..
Y Your Love Y
RISKY
“
Aku akan menyimpan baik-baik kalung ini Ky. Aku juga sayang kamu. Nama
kamu akan selalu tersimpan dalam hatiku, selamanya.” janjiku dalam hati.
***** THE END*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar