Selasa, 08 November 2011
Separuh Jiwa Bintang #2Keesokan harinya aku dan keluargaku mengantarkan Risky dan keluarganya ke Airport. Air mataku tak bisa tertahankan lagi. “ Sudahlah Bint, jangan menangis. Ky pasti balik lagi kok.” Kata Risky sambil mengusap air mataku. “ Tapi….. “ “ Sudah, jangan menangis ya. Ky pergi dulu .“ Aku hanya terdiam dan memandang Ky yang lama-kelamaan hilang. Ky telah pergi ninggalin aku. Aku masih tak percaya dengan semua ini. “ Aku akan menunggumu Ky, sampai kapanpun.” kataku dalam hati. Kami pun segera pulang. ********************************************************************************************** 6 TAHUN KEMUDIAN Malam ini aku hanya merenung. Di tempat yang sama, aku memandang ribuan bintang yang masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Tetapi tidak pada hatiku. Malam ini tidak ada Risky di sampingku. Sejak 6 tahun silam, aku dan risky sudah tidak berkomunikasi lagi. Aku tak tahu kabar apapun tentangnya. “ Sekarang sudah 6 tahun kamu pergi. Sekarang waktunya kamu menepati janjimu Ky. Bint masih nungguin kamu.” kataku dalam hati seraya memegang kalung pemberiannya. Tapi, hari demi hari, waktu demi waktu terus berganti. Risky tak kunjung datang. Aku sedih. Aku kecewa dengan Risky. Risky tak menepati janjinya padaku. Aku berfikir, mungkin ia sudah lupa denganku. Tapi dalam hatiku, aku akan tetap menunggu dia sampai kapanpun. Setahun kemudian, aku berumur 16 tahun. Saat itu aku duduk di bangku 1 SMA. Teman baru, guru baru, dan suasana yang baru mampu menghilangkan ingatan sejenak tentang Risky. Walau akhirnya semakin membuat aku teringat kepadanya. Dan mungkin juga ini adalah hari terakhir aku dipanggil Bintang. Semester pertama berjalan dengan cepat dan tak terasa liburanku pun juga telah usai, aku harus kembali lagi ke sekolah. Saat aku memasuki kelas, anak-anak perempuan heboh membicaraan murid baru kelas 12. Pantas saja murid baru itu adalah seorang laki-laki yang sangat tampan. Aku penasarn seperti apa sih tampannya murid baru itu sampai-sampai menghebohkan seisi sekolah. Keesokan harinya aku bangun kesiangan. Setelah perlengkapan sekolah siap, aku langsung berangkat ke sekolah. Hampir saja pagar di tutup. Kemudian aku berlari menyusuri koridor. Saat sampai dibelokan, tak sengaja aku menabrak seseorang. Aku terjatuh. Seseorang itu lalu mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menjabat tangannya. “ Kamu gag pa-pa kan?” tanyanya padaku “ Gag pa-pa kok kak. Cuma sedikit sakit.” jawabku sambil melemparkan senyuman padanya. “ Maaf ya aku gag sengaja.” katanya “ Iya kak. Makasih udah nolongin. Tapi aku buru-buru. Daa…..” jawabku dengan tergesa-gesa. Sesampainya di kelas, anak-anak masih ramai sendiri. “ Pak Radi kok belum datang?” tanyaku pada Rinda. Rinda adalah sahabat terbaikku. Hmm… mungkin bisa disebut sahabat terbaik setelah Risky. “Pak Radi gag masuk, katanya sih sakit. Kamu kenapa, kok kayak dikejar-kejar setan gitu? tanyanya sambil melihatku aneh. “ Aku kira tadi Pak Radi udah datang, eh ternyata malah gag masuk.” “ Aduh, parah kamu tu Ren, hehehe.” “ Hmm… Tau gag, tadi di koridor aku tabrakan sama cowok keren banget.” kata ku tuk mengawali cerita . “ Kayaknya sih dia murid baru itu, soalnya aku belum pernah melihatnya.” “ Ha?? Kamu tabrakan sama kakak kelas baru yang super double keren tu?? tanya Rinda memotong ceritaku. “ Iya, trus dia tadi nolongin aku, tapi sayangnya au belum sempat menanyakan namanya.” “ Kalo’ gag salah sih namanya Risky.” Jawabnya “ Apa? Namanya Risky?” tanyaku tidak percaya “ Ia, emang kenapa kalo’ namanya Risky?” “ Eng..enggak kok, gag pa-pa..” jawabku dengan nada terbata-bata. Teng……teng…..teng… bel pergantian pelajaran pun berbunyi. Tak terasa waktu cepat sekali berputar. Bu Linda, guru Matematika ku pun memasuki kelas. Aku mengakhiri ceritaku pada Rinda, dan aku pun mulai memperhatikan Bu Linda yang sedang mengajar.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar